Sabtu, 19 Mei 2012

ASKEP ASFIKSIA NEONATORUM


BAB I
KONSEP MEDIS

A.    PENGERTIAN

Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan intra uterus ke kehidupan ekstra uterin hingga berusia kurang dari 1 bulan.

Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak mampu bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif karena gangguan pertukaran gas serta transport 02 dari ibu ke janin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2,saat janin di uterus hipoksia.



B.  ETIOLOGI

1. Faktor ibu

a. Hipoksia ibu

Dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anestesi dalam, dan kondisi ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya.

b. Gangguan aliran darah uterus

Berkurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke plasenta dan juga ke janin, kondisi ini sering ditemukan pada anemia, hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan,

2. Faktor plasenta

Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta, asfiksia janin dapat terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya perdarahan plasenta, solusio plasenta.

3. Faktor fetus

Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan tali pusat yang tertekan, menumbung,dll.

4. Faktor neonates

Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal yaitu pemakaian obat anestesi yang berlebihan pada ibu,

C.  MANIFESTASI KLINIS

Pada asfiksia tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaraya :

a.       Fungsi jantung terganggu akibat peningkatan beban kerja jantung

b.      Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah mengalami gangguan.

Gejala klinis :

Bayi yang mengalami kekurangan O2 akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga mulai menurun, sedangkan tonus neuromuscular berkurang secara berangsur-agsur berkurang dari bayi memasuki periode apneu primer.

Gejala dan tanda pada asfiksia neunatorum yang khas antara lain meliputi pernafasan cepat, pernafasan cuping hidung, sianosis, nadi cepat

Gejala lanjut pada asfiksia :

1) Pernafasan megap-megap yang dalam

2) Denyut jantung terus menurun

3) Tekanan darah mulai menurun

4) Bayi terlihat lemas (flaccid)

5) Menurunnya tekanan O2  (PaO2)

6) Meningginya tekanan CO2 (PaO2)

8) Terjadinya perubahan sistem kardiovaskuler

D. PATOFISIOLOGI

Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan / persalinan, akan terjadi asfiksia. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan ini dapat reversible atau tidak tergantung dari lamanya asfiksia. Asfiksia ringan yang terjadi dimulai dengan suatu periode appnoe, disertai penurunan frekuensi jantung. Selanjutnya bayi akan menunjukan usaha nafas, yang kemudian diikuti pernafasan teratur. Pada asfiksia sedang dan berat usaha nafas tidak tampak sehingga bayi berada dalam periode appneu yang kedua, dan ditemukan pula bradikardi dan penurunan tekanan darah. Pada paru terjadi pengisian udara alveoli yang tidak adekuat sehingga menyebabkan resistensi pembuluh darah paru. Sedangkan di otak terjadi kerusakan sel otak yang dapat menimbulkan kematian.

E. AFGAR SKOR

TANDA
0
1
2
JUMLAH NILAI
Frekwensi jantung
Tidak ada
Kurang dari 100 X/menit
Lebih dari 100 X/menit
Usaha bernafas
Tidak ada
Lambat, tidak teratur
Menangis kuat
Tonus otot
Lumpuh
Ekstremitas fleksi sedikit
Gerakan aktif
Refleks
Tidak ada
Gerakan sedikit
Menangis
Warna kulit
Biru / pucat
Tubuh kemerahan, ekstremitas biru
Tubuh dan ekstremitas kemerahan



nilai 0-3 : asfiksia berat

nilai 4-6 : asfiksia sedang

nilai 7-10 : normal

Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1 menit seperti penilaian skor apgar)

F. KLASIFIKASI

Asfiksia neonatorum diklasifikasikan sbb:

1. Asphyksia Ringan ( vigorus baby)

Skor APGAR 7-10, bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.

2. Asphyksia sedang ( mild moderate asphyksia)

Skor APGAR 4-6, pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.

3. Asphyksia Berat

Skor APGAR 0-3, pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 x permenit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada. Pada asphyksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang post partum, pemeriksaan fisik sama pada asphyksia berat.

G.KOMPLIKASI
           Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :

1. Hipoksia dan iskemia otak

Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak.

2. Anuria atau oliguria

Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan terganggu sehingga darah yang seharusnya dialirkan keginjal menurun. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pengeluaran urine sedikit.

3.  Koma                                

Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.

H.  PENATALAKSANAAN

Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi :

1. Memastikan saluran nafas terbuka :

· Meletakan bayi dalam posisi yang benar

· Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trachea

· Bila perlu masukan ET untuk memastikan pernapasan terbuka

2. Memulai pernapasan :

· Lakukan rangsangan taktil. Beri rangsangan taktil dengan menyentil atau menepuk telapak kakiLakukan penggosokan punggung bayi secara cepat,mengusap atau mengelus tubuh,tungkai dan kepala bayi.

· Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif

3. Mempertahankan sirkulasi darah :

Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan

Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus :

1. Tindakan umum

a. Pengawasan suhu

b. Pembersihan jalan nafas

c. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan

2. Tindakan khusus

a. Asphyksia berat

Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan, langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan, cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis, koreksi dengan bikarbonat natrium 2-4 mEq/kgBB, diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4ml/kgBB. Kedua obat ini disuntikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis, reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali, bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung, maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80-100/menit. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks, jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali, mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi

b. Asphyksia ringan dan sedang

Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba, bila dalam waktu 30-60 detik tidak timbul pernapasan spontan, ventilasi aktif harus segera dilakukan, ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasal dengan aliran 1-2 lt/mnt, bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. Kemudian dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit, sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan, usahakan mengikuti gerakan tersebut, ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit, sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan, ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. Pada ventilasi dari mulut ke mulut, sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2, ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan berberapa saat terjadi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot, intubasi endotrakheal harus segera dilakukan, bikarbonat natrium dan glukosa dapat segera diberikan, apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur, meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat.

BAB III
KONSEP KEPERAWATAN



I.       BIODATA

A.    Identitas Klien

1. Nama                                               : An. A

2. Tempat tgl lahir/usia                        : Kendari, 23 mei 2011/ 0 tahun 1 hari

3. Jenis kelamin                                   : Laki-laki

4. A g a m a                                         : Islam

5. Pendidikan                                      : -

6. Alamat                                            : Jl. BTN Kehutanan, Kel. Lepo-lepo

7. Tgl masuk                                        : 23 mei 2011

8. Tgl pengkajian                                 : 23 mei 2011

9. Diagnosa medik                              : Asfiksia neonatorum

                                                 

B.     Identitas Orang tua

1. Ayah

      a. N a m a                                      : Tn. A

      b. U s i a                                        : 35 tahun

      c. Pendidikan                                : S1

      d. Pekerjaan/Jumlah penghasilan : PNS/Rp. 2.000.000,-

      e. A g a m a                                   : Islam

      f. Alamat                                       : Jl. BTN Kehutanan, Kel. Lepo-lepo

2. Ibu

      a. N a m a                                      : Ny. A

      b. U s i a                                        : 30 tahun

      c. Pendidikan                                : SMA

      d. Pekerjaan/Sumber penghasilan: Ibu Rumah Tangga

      e. Agama                                       : Islam

      f. Alamat                                       : Jl. BTN Kehutanan, Kel. Lepo-lepo

C.     Identitas Saudara Kandung

     

NO
N A M A
U S I A
HUBUNGAN
STATUS KESEHATAN
1


An. B
5 tahun
Kakak kandung
Sehat




II.    RIWAYAT KESEHATAN

1.      Keluhan utama  :

            Bayi baru lahir mengalami bradipneu, denyut jantung dan tekanan darah bayi menurun, sianosis, gerakan ekstremitas fleksi sedikit, dan gerakan reflexs sedikit.

2.      Riwayat keluhan utama  : 

      Seorang ibu  prepartum masuk rumah sakit diantar oleh suaminya pada tanggal 22 mei 2011, sebelum melahirkan ibu tersebut pernah melakukan pemeriksaan kehamilan dan  anamnese didaptkan hasil bahwa ibu memiliki riwayat anemia pada trimester ke 3.  Setelah diberikan tindakan pengobatan berupa pemberian tablet zat besi namun ibu tersebut kurang menunjukkan perbaikan akan kondisi keadaannya. Kemudian pada tanggal 23 mei 2011 tepat pukul. 19.00 WITA ibu tersebut melahirkan seorang bayi laki-laki dengan kondisi bradipneu: 25x/m, denyut jantung menurun: 90x/m, tekanan darah: 70/40mmHg, sianosis dan gerakan ekstremitas dan reflexs sedikit.

3.      Riwayat Kesehatan Sekarang:

            Bayi baru lahir mengalami bradipneu, denyut jantung bayi dan tekanan darah menurun, bayi nampak sianosis dan gerakan ekstremitas fleksi sedikit dan gerakan reflexs sedikit segera setelah bayi tersebut dilahirkan.

4.      Riwayat Kesehatan masa lalu:

1. Prenatal care

a.       Pemeriksaan kehamilan : 3 kali

b.       Keluhan selama hamil: sering pusing, cepat lelah, mata berkunang-kunang, dan malaise     

c.       Kenaikan BB selama hamil: 5 Kg

2. Natal

                  a,   Tempat melahirkan : Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra    

                  b.   Jenis persalinan : Normal

                  c.   Penolong persalinan : Bidan                       

                  d.   Kesulitan lahir normal : ibu kesulitan mengedan karena ibu cepat lelah

3. Post natal

                  a.   Kondisi bayi : BB lahir    2.400 gram, PB: 40 cm

                  b.   Bayi mengalami nafas lambat, denyut jantung bayi menurun

                  c.   Bayi tidak mengalami kemerahan dan nampak pucat.

                  d.   Gerakan reflex sedikit dan tonus otot bayi menurun


IV. RIWAYAT IMMUNISASI




No
Jenis Immunisasi

Waktu Pemberian
Reaksi Setelah Pemberian
1.
BCG

-
-
2.
DPT (I,II,III)

-
-
3.
Polio (I,II,III,IV)

-
-
4.
Campak

-
-
5.
Hepatitis

-
-
6.
Lain-lain

-
-



V.    RIWAYAT TUMBUH KEMBANG




·         Pertumbuhan Fisik




1.      Berat Badan Lahir      : 2400 g

2.      Tinggi Badan              : 40 cm

3.      Lingkar kepala            : 30 cm

4.      Lingkar dada              :  28 cm

5.      Lingkar lengan atas     : 12 cm

6.      Lingkar perut              :  50 cm





VI. RIWAYAT NUTRISI



A.    Pemberian ASI

1.      Pertama kali disusui          : belum pernah

2.      Cara pemberian                 :-                     

3.      Lama pemberian                : -

B.     Pemberian susu formula

1.      Alasan pemberian              : -

2.      Jumlah pemberian             : -

3.      Cara memberikan              : -        

           

C.     Pemberian makanan tambahan            :  -

a.       Pertama kali diberikan usia           :  -

b.      Jenis: Bubur susu:                         :  -



VII.    REAKSI HOSPITALISASI

·         Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap

Ø  Orang tua mengatakan merasa cemas dan kawatir mengenai keadaan bayinya

Ø  Orang tua selalu menanyakan apakah sakit bayinya dapat sembuh

Ø  Orang tua berharap agar anaknya cepat sembuh



VIII. PEMERIKSAAN FISIK



A.    Keadaan Umum Klien :  klien nampak bradipneu, denyut jantung dan tekanan darah menurun, tampak sianosis, gerakan ekstremitas dan reflexs sedikit.



A.    Tanda-tanda vital

Ø  Suhu                   : 36,5o C

Ø  Nadi                   : 90 x/ mnt

Ø  Respirasi             : 25 x/m

Ø  Tekanan darah    : 70 / 40 mmHg



B.     Antropometri

Ø  Tinggi badan                  :  40 cm

Ø  Berat badan                    :  2400 g

Ø  Lingkar lengan atas        :   12 cm

Ø  Lingkar kepala               :   30 cm

Ø  Lingkar dada                  :   28 cm

Ø  Lingkar perut                 :   50 cm



C.     Penilaian Afgar Scor

Ø  Nilai afgar scor rendah

Tanda
0
1
2
Keterangan
Scor
Frekwensi jantung


<100
1
Usaha bernafas


lambat
1
Tonus otot


Ekstremitas fleksi sedikit
1
Reflexs


Gerakan sedikit
1
Warna kulit


Seluruh tubuh biru atau pucat
0



                    Jadi jumlah afgar scor pada bayi tersebut yaitu dengan skala 4 dimana bayi mengalami asfiksia sedang.



D.    Sistem Pernapasan

Ø  Hidung: Simetris kiri – kanan,

Ø  Leher:  Tidak ada pembesaran kelenjar, tidak ada tomor

Ø  Dada  :

         Bentuk dada: tidak simetris

         Gerakan dada: dada dan abdomen tidak bergerak secara bersamaan,

         Ekspansi dada berkurang

         Suara  napas melemah

E.     Sistem Cardio Vaskuler

Ø  Capillary  Refilling Time:   >2   detik

Ø  Denyut jantung : 110x/m

Ø  Tekanan darah menurun: 70/40mmHg



F.      System Syaraf

Ø  Bayi mengalami penurunan kesadaran



I.       System Muskulo Skeletal

Ø  Terjadi penurunan tonus otot bayi

Ø  Gerakan ekstremitas fleksi pada bayi sedikit

Ø  Bayi nampak lemas dan lemah



J.       System Integumen

Ø  Bayi mengalami sianosis pada kulit dan kuku

Ø  CRT: > 3 detik

Ø  bayi nampak pucat



K.    System Endokrim

o   Kelenjar Thyroid : Tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid



         L. System Perkemihan

o   Tidak ada edema

o   Tidak ada bendungan  kandung kemih



M.  System Reproduksi

o   Penis  ; Bersih

o   Tidak ada kelainan pada area genetalia            

ANALISA DATA



Symptom
Etiologi
Problem
DS :
-           
DO:
-          Bayi mengalami bradipneu : 25x/m
-          Suara nafas melemah
-          Ekspansi dada berkurang
ASFIKSIA
Bayi kekurangan O2
Takipnea
POLA NAFAS INEFEKTIF
POLA NAFAS INEFEKTIF
DS:
-           
DO:
-          Bayi mengalami sianosis
-          CRT: > 3 detik
-          Bayi mengalami bradipneu : 25x/m
ASFIKSIA
Bayi kekurangan O2
Takipnea
Apneu primer
Denyut jantung dan tonus menurun
Nafas megap-megap dan dalam
Paru-paru terendam cairan
Alveoli tidak mengembang
Transport O2 dan CO2 terganggu
G3 PERTUKARAN GAS
G3 PERTUKARAN GAS
DS:
-           
DO:
-          Denyut jantung menurun: 90x/m
-          Tekanan darah menurun: 70/40mmHg
-          Bayi mengalami sianosis
-          CRT: > 3 detik
ASFIKSIA
Bayi kekurangan O2
Takipnea
Apneu primer
Denyut jantung dan tonus menurun
Nafas megap-megap dan dalam
Bradikardi, TD menurun
Suplai darah, O2 kejaringan
Frekwensi jantung
Beban kerja jantung
Jantung kekurangan energi
Daya pompa jantung
                              CO menurun
CO menurun
DS:
-           
DO:
-          Bayi mengalami sianosis pada kulit dan kuku
-          CRT: > 3 detik
-          bayi nampak pucat
ASFIKSIA
Bayi kekurangan O2
Takipnea
Apneu primer
Denyut jantung dan tonus menurun
Nafas megap-megap dan dalam
Bradikardi, TD menurun
Suplai darah, O2 kejaringan
Suplai darah, O2 kejaringan perifer
G3 PERFUSI JARINGAN PERIFER
G3 PERFUSI JARINGAN PERIFER
DS:
-           
DO:
-          Bayi mengalami penurunan kesadaran
-          Tekanan darah menurun: 70/40mmHg

ASFIKSIA
Bayi kekurangan O2
Takipnea
Apneu primer
Denyut jantung dan tonus menurun
Nafas megap-megap dan dalam
Bradikardi, TD menurun
Suplai darah, O2 kejaringan
Suplai darah, O2 kejaringan cerebral
G3 PERFUSI JARINGAN CEREBRAL
G3 PERFUSI JARINGAN CEREBRAL
DS:
-           
DO:
-          Berat badan bayi menurun: 2400 gram
-          Tinggi badan bayi: 40 cm
-       Lingkar lengan atas:     12 cm
-       Lingkar kepala :   30 cm
-       Lingkar dada    :   28 cm
-       Lingkar perut   :   50 cm

Anemia ibu pada masa kehamilan
Aliran darah, O2 dan nutrisi keuterus
Suplai darah, O2 dan nutrisi keplasenta dan janin
janin kekurangan nutrisi
bayi baru lahir  kekurangan nutrisi
BBLR
NUTRISI <   DARI KEBUTUHAN
NUTRISI <   DARI KEBUTUHAN
DS:
-           
DO:
-          Bayi nampak lemas dan lemah
-          Terjadi penurunan kekuatan otot
-          Gerakan ekstremitas fleksi sedikit
-          Gerakan reflex sedikit

ASFIKSIA
Bayi kekurangan O2
Takipnea
Apneu primer
Denyut jantung dan tonus menurun
Nafas megap-megap dan dalam
Bradikardi, TD menurun
Flaccid
Bayi nampak lemah dan lemas
INTOLERANSI AKTIFITAS
INTOLERANSI AKTIFITAS
DS:
-    Orang tua mengatakan merasa cemas dan kawatir mengenai keadaan bayinya
-    Orang tua selalu menanyakan apakah sakit bayinya dapat sembuh
-    Orang tua berharap agar anaknya cepat sembuh.
DO:
-    Orang tua bayi nampak gelisah, cemas dan khawatir akan kondisi anaknya

ASFIKSIA
Bayi kekurangan O2
Takipnea
Apneu primer
Denyut jantung dan tonus menurun
Nafas megap-megap dan dalam
Bradikardi, TD menurun
Flaccid
Apneu sekunder
Bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak ada usaha bernafas secara spontan
resusitasi  pada BBL
Stress psikologis pada orang tua
Perasaan takut dan khawatir akan kondisi bayinya
KECEMASAN ORANG TUA
KECEMASAN ORANG TUA



INTERVENSI KEPERAWATAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN & KRITERIA HASIL
INTERVENSI
RASIONAL
·      Pola Nafas inefektif berhubungan dengan hipoksia bayi ditandai dengan:
DS:
o   -
DO:
o   bayi mengalami bradipneu : 25x/m,
o   suara nafas melemah,
o   ekspansi dada berkurang.

*   Klien memperlihatkan pola nafas yang efektif, dengan criteria:
o   Frekwensi dan kedalaman pernafasan dalam rentang normal
o   Bayi aktif
Ø Kaji frekwensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.

Ø Catat upaya pernafasan, termasuk penggunaan otot bantu pernafasan

Ø Auskulatasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti mengi, krekels,dll



Ø Tinggikan kepala bayi dan bantu mengubah posisi

Ø Berikan oksigen tambahan
Ø Kecepatan biasanya meningkat apabila terjadi peningkatan kerja nafas
Ø Penggunaan otot bantu pernafasan sebagai akibat dari penigkatan kerja nafas
Ø Bunyi nafas menurun/tak ada bila jalan nafas obstruksi dan adanya bunyi nafas ronki dan mengi menandakan adanya kegagalan pernafasan
Ø Untuk memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.
Ø Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas
·      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan paru-paru bayi terendam cairan ditandai dengan:
DS:
o   -
DO:
o   bayi mengalami sianosis,
o   CRT: > 3 detik,
o   bayi mengalami bradipneu : 25x/m.

*   Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat, dengan kriteria :
o   Nafas Bayi kembali normal 
o   Bayi  aktif.
o   Pada pemeriksaan auskultasi tidak ditemukan lagi bunyi tambahan pernafasan
Ø Kaji tanda vital – pernafasan, nadi, tekanan darah.



Ø  Kaji frekwensi, kedalaman pernafasan dan tanda-tanda sianosis setiap 2 jam.









Ø Dorong pengeluaran sputum, pengisapan (suction) bila diindikasikan.




Ø Lakukan palpasi fokal fremitus


Ø Observasi tingkat kesadaran, selidiki adanya perubahan





Ø Kolaborasi dengan tim medis pemberian O2 sesuai dengan indikasi

Ø Sebagai indicator adanya gangguan dlm system pernafasan


Ø Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan adan/atau kronisnya proses penyakit. Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir dan atau telinga). Keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia.

Ø Kental, tebal dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan nafas kecil, pengisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif.
Ø Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara terjebak.
Ø Gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hipoksia, GDA memburuk disertai bingung/somnolen menunjukkan disfungsi serebral yang berhubungan dengan hipoksemia.
Ø Dapat memperbaiki /mencegah memburuknya hipoksia.

·      Penurunan CO berhubungan dengan suplai darah, O2 dan nutrisi kejaringan menurun ditandai dengan:
DS:
o   -
DO:
o   denyut jantung menurun: 90x/m,
o   tekanan darah menurun: 70/40mmHg
o   bayi mengalami sianosis,
o   CRT: > 3 detik

*   Klien memperlihatkan peningkatan curah jantung dengan criteria:
o   Frekwensi jantung dan irama dalam rentang normal
o   Tanda-tanda vital dalam rentang normal
Ø Pantau frekwensi/ irama jantung





Ø Auskultasi bunyi jantung


Ø Dorong tirah baring dalam posisi semi fowler


Ø Evaluasi keluhan lemas, palpitasi,

Ø Berikan oksigen suplemen

Ø Takikardi dapat terjadi saat jantung berupaya untuk meningkatkan curahnya berespon pada demam, hipoksia

Ø Memberikan deteksi dini dan terjadinya komplikasi mis, Gagal janrtung
Ø Menurunkan beban kerja jantung, memaksimalkan curah jantung
Ø Manifestasi dari penurunan cardiac output
Ø Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk fungsi miokard
·      Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan suplai darah, O2 dan nutrisi kejaringan perifer menurun ditandai dengan:
DS:
o   -
DO:
o   bayi mengalami sianosis pada kulit dan kuku,
o    CRT: > 3 detik,
o   bayi nampak pucat

*   Klien memperlihatkan perfusi perifer yang adekuat dengan criteria:
o   Nadi perifer meningkat
o   Kulit dan kuku tidak pucat
o   CRT< 2 detik
Ø Kaji status mental klien secara teratur.

Ø Catat adanya penurunan kesadaran




Ø Selidiki takipnea, sianosis, pucat, kulit lembab. Catat kekuatan nadi perifer.



Ø Berikan oksigen suplemen

Ø Mengetahui derajat hipoksia

Ø Penurunan kesadaran merupakan manifestasi penurunan suplai darah dan oksigen kejaringan perifer yang parah
Ø suplai darah perifer diakibatkan oleh penurunan curah jantung yang dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit, penurunan nadi
Ø Dapat memperbaiki /mencegah memburuknya hipoksia pada otak


·      Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan suplai darah, O2 dan nutrisi kejaringan cerebral menurun ditandai dengan:
DS:
o   -
DO:
o   bayi mengalami penurunan kesadaran,
o   tekanan darah menurun: 70/40mmHg

*   Klien menunjukkan perfusi jaringan cerebral yang adekuat dengan criteria:
o   Tanda-tanda vital stabil
o   Tidak terjadi penurunan kesadaran
Ø Kaji status mental klien secara teratur

Ø Catat adanya penurunan kesadaran





Ø Pantau tanda-tanda vital



Ø Berikan oksigen sesuai indikasi


Ø Mengetahui derajat hipoksia

Ø Penurunan keadaran merupakan manifestasi penurunan suplai darah dan oksigen kejaringan otak yang parah

Ø Sebagai dasar untuk mengetahui adanya penurunan oksigen kejaringan otak

Ø Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi cerebral dan tekanan meningkat / terbentuknya edema.

·      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan bayi kekurangan nutrisi semenjak dalam uterus ditandai dengan:
DS:
DO:
o   berat badan bayi menurun: 2400 gram,
o   tinggi badan bayi: 40 cm,
o   lingkar lengan atas:12 cm,
o   lingkar kepala:   30 cm,
o   lingkar dada:28 cm,
o   lingkar perut: 50 cm

*   Klien menunjukkan nutrisi yang terpenuhi sesuai kebutuhan dengan criteria:
o   Berat badan, Tinggi badan, lingkar dada, kepala, perut dan lingkar lengan atas  meningkat dalam rentang normal

Ø Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan (misalnya : mengisap, menelan, dan batuk)
Ø Auskultasi adanya bising usus, kaji status fisik dan status pernapasan






Ø Kaji berat badan dengan menimbang berat badan setiap hari, kemudian dokumentasikan pada grafik pertumbuhan bayi









Ø Pantau masukan dan pengeluaran. Hitung konsumsi kalori dan elektrolit setiap hari




Ø Kaji tingkat hidrasi, perhatikan fontanel, turgor kulit, berat jenis urine, kondisi membran mukosa, fruktuasi berat badan.










Ø Kaji tanda-tanda hipoglikemia; takipnea dan pernapasan tidak teratur, apnea, letargi, fruktuasi suhu, dan diaphoresis. Pemberian makan buruk, gugup, menangis, nada tinggi, gemetar, mata terbalik, dan aktifitas kejang.






Kolaborasi :
Ø Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi
·         Glukas serum
·         Nitrogen urea darah, kreatin, osmolalitas serum/urine, elektrolit urine
Ø Berikan suplemen elektrolit sesuai indikasi misalnya kalsium glukonat 10%
Ø  Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi
Ø  Pemberian makan pertama bayi stabil memiliki peristaltik dapat dimulai 6-12 jam setelah kelahiran. Bila distres pernapasan ada  cairan parenteral di indikasikan dan cairan peroral harus ditunda
Ø  Mengidentifikasikan adanya resiko derajat dan resiko terhadap pola pertumbuhan. Bayi SGA dengan kelebihan cairan ekstrasel kemungkinan kehilangan 15% BB lahir. Bayi SGA mungkin telah mengalami penurunan berat badan dealam uterus atau mengalami penurunan simpanan lemak/glikogen.
Ø  Memberikan informasi tentang masukan aktual dalam hubungannya dengan perkiraan kebutuhan untuk digunakan dalam penyesuaian diet.
Ø  Peningkatan kebutuhan metabolik dari bayi SGA dapat meningkatkan kebutuhan cairan. Keadaan bayi hiperglikemia dapat mengakibatkan diuresi pada bayi. Pemberian cairan intravena mungkin diperlukan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan, tetapi harus dengan hati-hati ditangani untuk menghindari kelebihan cairan
Ø  Karena glukosa adalah sumber utama dari bahan bakar untuk otak, kekurangan dapat menyebabkan kerusakan SSP permanen.hipoglikemia secara bermakna meningkatkan mobilitas mortalitas serta efek berat yang lama bergantung pada durasi masing-masing episode.
Kolaborasi :
Ø Hipoglikemia dapat terjadi pada awal 3 jam lahir bayi SGA saat cadangan glikogen dengan cepat berkurang dan glukoneogenesis tidak adekuat karena penurunan simpanan protein obat dan lemak.
Ø Mendeteksi perubahan fungsi ginjal berhubungan dengan penurunan simpanan nutrien dan kadar cairan akibat  malnutrisi.
Ø Ketidakstabilan metabolik pada bayi SGA/LGA dapat memerlukan suplemen untuk mempertahankan homeostasis.
·      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan bayi kekurangan O2 ditandai dengan:
DS:
o   -
DO:
o   bayi nampak lemas dan lemah,
o   terjadi penurunan kekuatan otot,
o    gerakan ekstremitas fleksi sedikit,
o   gerakan reflex sedikit.

*   Klien dapat menunjukkan toleransi aktifitas/penurunan kelemahan  dengan criteria:
o   Tanda-tanda vital dalam rentang normal
o   Peningkatan tonus otot bayi
o   Gerakan reflexs meningkat
Ø Kaji tanda-tanda vital, misalnya: TD, nadi, pernafasan.

Ø Kaji presipitator/ penyebab terjadinya kelemahan


Ø Berikan posisi yang nyaman bagi bayi


Ø Berikan tambahan oksigen sesuai indikasi
Ø Dapat digunakan sebagai dasar/ petunjuk terjadinya intoleransi
Ø Biasanya kelemahan terjadi akibat ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan
Ø Untuk meningkatkan sirkulasi pada bayi
Ø Untuk meningkatkan suplai oksigen dan menurunkan kerja nafas.
·      Kecemasan orang tua berhubungan dengan stress psikologis orang tua ditandai dengan:
DS:
o   orang tua mengatakan merasa cemas dan kawatir mengenai keadaan bayinya,
o   orang tua selalu menanyakan apakah sakit bayinya dapat sembuh,
o   orang tua berharap agar anaknya cepat sembuh,
DO:
o   orang tua nampak gelisah,
o   cemas dan khawatir akan kondisi bayinya
*   Orang tua klien tidak mencemaskan keadaan anaknya dengan criteria:
o   Orang tua klien tampak tenang
o   Orang tua klien menerima keadaan dan mengerti akan penyakit yang dialami anaknya
Ø Beri kesempatan orang tua klien untuk mengungkapkan perasaannya.






Ø Jelaskan pada orang tua tentang keadaan anak-nya saat ini.

Ø HE pada orang tua klien tentang penyakit asfiksia
Ø Ungkapan perasaan dapat membantu mengurangi beban pikiran, juga agar perawat dapat mengidentifikasi kecemasan orang tua klien sehingga dapat melakukan intervensi selanjutnya.
Ø Agar orang tua dapat mengetahui dan memahami keadaan anaknya.
Ø Agar orang tua klien mengerti tentang penyakit asfiksia dan dapat melakukan tindakan antisipasi/ pen-cegahan terhadap penyakit asfiksia khususnya pada saat kehamilan.

 

1 komentar: